Selasa, 03 Juli 2012

pengertian dan jenis-jenis prosa fiksi


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Asallamualaikum Wr. Wb.
            Segala puji Syukur hanyalah milik Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpah pada teladan umat manusia, panglima para syuhada serta imam para ulama, Nabi Muhamad SAW.
            Maha suci Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini tanpa halangan yang berarti.
            Penulis menyadari meskipun dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan, namun penulis mengucapkan syukur Alhamdulillah atas terselesaikannya tugas ini tepat pada waktunya.

A.    1. Pengertian dan Jenis-Jenis Prosa-Fiksi

a.      Pengertian
Kata prosa diambil dari bahasa Inggris, prose. Kata ini sebenarnya menyaran pada pengertian yang lebih luas, tidak hanya mencakup pada tulisan yang digolongkan sebagai karya sastra, tapi juga karya non fiksi, seperti artikel, esai, dan sebagainya. Agar tidak terjadi kekeliruan, pengertian prosa ini dibatasi pada prosa sebagai genre sastra. Dalam pengertian kesastraan, prosa sering diistilahkan dengan fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discourse). Prosa yang sejajar dengan istilah fiksi (arti rekaan) dapat diartikan : karya naratif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, tidak sungguh-sungguh terjadi di dunia nyata. Tokoh, peristiwa dan latar dalam fiksi bersifat imajiner. Hal ini berbeda dengan karya nonfiksi. Dalam nonfiksi tokoh, peristiwa, dan latar bersifat faktual atau dapat dibuktikan di dunia nyata (secara empiris).
b.      Jenis–Jenis Prosa – Fiksi
 Prosa Modern
Dari khasanah sastra modern, kita mengenal Ada beberapa jenis karya prosa fiksi, yaitu novel, novelet, dan cerita pendek (cerpen). 1) Cerita Pendek (cerpen). Sesuai dengan namanya, cerita pendek dapat diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang pendek. Ukuran pendek di sini bersifat relatif.
Cerita Anak
Cerita anak, baik karya asli Indonesia, maupun terjemahan, mencakup rentang umur pembaca yang beragam, mulai rentang 3-5 tahun, 6-9 tahun, dan 10-12 tahun (bahkan 13 dan 14) tahun. Adapun bentuknya bermacam-macam, baik serial, cerita bergambar, maupun cerpen. Tema cerita anak juga beragam, mulai dari persahabatan, lingkungan, kemandirian anak, dan lain-lain. Sifatnya juga beragam. Dari segi sifatnya, cerita anak dalam khasanah sastra modern terdiri atas:
cerita keajaiban, yakni cerita sihir dan peri yang gaib, yang biasanya melibatkan pula unsur percintaan dan petualangan. Contoh: Cinderella, Puteri Salju, Puteri Tidur, Tiga Keinginan, dan lain-lain.
cerita fantasi, yaitu cerita yang 1) menggambarkan dunia yang tidak nyata; 2) dunia yang dibuat sangat mirip dengan kenyataan dan menceritakan hal-hal aneh; dan 3) menggambarkan suasana yang asing dan peristiwa-peristiwa yang sukar diterima akal. Macam-macamnya adalah: fantasi binatang, fantasi mainan dam boneka, fantasi dunia liliput, fantasi tentang alam gaib, dan fantasi tipu daya waktu.
cerita fiksi ilmu pengetahuan, yakni cerita dengan unsur fantasi yang didasarkan pada hipotesis tentang ramalan yang masuk akal berdasarkan pengetahuan, teori, dan spekulasi ilmiah, misalnya cerita tentang petualangan di planet lain, makhluk luar angkasa, dan sejenisnya.
 Novel Remaja
Novel remaja adalah novel yang ditulis untuk segmen pembaca remaja. Oleh karena yang ditujunya remaja, maka isi dan penyajiannya pun disesuaikan dengan dunia remaja. dari segi isinya, novel remaja biasanya berkisah tentang percintaan, persahabatan, permusuhan, atau petualangan. Bahasanya adalah bahasa khas remaja yang mengacu pada bahasa gaul: bahasa khas remaja kota. Dilihat dari jenis ceritanya, ada novel detektif, petualangan, juga novel drama. Dalam perkembangan sastra akhir-akhir ini, novel remaja dapat dikatakan mengalami booming.
 Prosa Lama
Yang dimaksud dengan istilah prosa lama di sini adalah karya prosa yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama Indonesia, yakni masyarakat tradisional. di wilayah Nusantara. Jenis sastra ini pada awalnya muncul sebagai sastra lisan. Di antara jenis-jenis prosa lama itu adalah mite, legenda, fabel, hikayat, dan lain-lain. Jenis-jenis prosa lama tersebut sering pula diistilahkan dengan folklor (cerita rakyat), yakni cerita dalam kehidupan rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan. Dalam istilah masyarakat umum, jenis-jenis tersebut sering disebut dengan dongeng.
Dongeng, adalah cerita yang sepenuhmya merupakan hasil imajinasi atau khayalan pengarang di mana yang diceritakan seluruhnya belum pernah terjadi.
Fabel adalah cerita rekaan tentang binatang dan dilakukan atau para pelakunya binatna g yang diperlakukan seperti manusia. Contoh: Cerita Si Kancil yang Cerdik, Kera Menipu Harimau, dan lain-lain.
Hikayat adalah cerita, baik sejarah, maupun cerita roman fiktif, yang dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta. Contoh; Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seribu Satu Malam, dan lain-lain.
Legenda adalah dongeng tentang suatu kejadian alam, asal-usul suatu tempat, benda, atau kejadian di suatu tempat atau daerah. Contoh: Asal Mula Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Asal Mula Candi Prambanan, dan lain-lain.
Mite adalah cerita yang mengandung dan berlatar belakang sejarah atau hal yang sudah dipercayai orang banyak bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung hal-hal gaib dan kesaktian luar biasa. Contoh: Nyi Roro Kidul.
Cerita Penggeli Hati, sering pula diistilahkan dengan cerita noodlehead karena terdapat dalam hampir semua budaya rakyat. Cerita-cerita ini mengandung unsur komedi (kelucuan), omong kosong, kemustahilan, ketololan dan kedunguan, tapi biasanya mengandung unsur kritik terhadap perilaku manusia/mayarakat. Contohnya adalah Cerita Si Kabayan, Pak Belalang, Lebai Malang, dan lain-lain.
Cerita Perumpamaan adalah dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat yang berisi nasihat dan bersifat mendidik. Sebagai contoh, orang pelit akan dinasihati dengan cerita seorang Haji Bakhil.  Kisah adalah karya sastra lama yang berisi cerita tentang perjalanan atau pelayaran seseorang dari satu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abullah ke Jeddah, dan lain-lain.
B.     Pengertian fiksi
Sudjiman, (1984:17) yang menyebut fiksi inidengan istilah ceritera rekaan, yaitu kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, danalur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi, dalam ragam prosa.Logika dalam prosa fiksi adlah logika imajnatif, sedangkan logika dalam nonfiksiadalah logika factual.Prosa fiksi dapat dibedakan atas pendek dan novel.

C.    Pengertian prosa
Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin “prosa” yang artinya “terus terang”. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa biasanya dibagi menjadi empat jenis: prosa naratif, prosa deskriptif, prosa eksposisi, dan prosa argumentatif. Prosa kadangkala juga disebut dengan istilah “gancaran”.
D.    Pisaw analisis yang digunakan untuk menganalisis cerpen yaitu mengunakan unsure intrinsic menurut Nurgiyantoro.
Menurut Nurgiyantoro dalam bukunya Pengkajian Prosa Fiksi unsur- unsur intrinsik ialah unsur- unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur- Unsur-unsur intrinsik tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Tema
2. Alur Cerita
3. Penokohan
4. Latar
unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, antara lain sebagai berikut.
·         Latar Tempat
·         Latar Waktu
·         Latar Sosial
5. Sudut Pandang
6. Gaya Bahasa dan Nada

Cerpen yang akan di analisis berjudul “Perbatasan”

“PERBATASAN”
Perbatasan biasanya pagi selalu diawali dengan tepukan hangat tangan Ibu dipipiku. Tangan itu selalu berbau nasi bercampur kayu bakar. Tapi pagi ini, aku dibangnkan oleh suara kentongan keras dari arah bale warga yang berjarak 500 meter dari rumahku. Aku tergeregap. Dari bunyinya kentongan itu dipukul kerap dan cepat. Segera aku berlari keteras. Hampir berbarengan dengan ibu  yang keluar dari dapur yang membawa centhong. “Pasti ada yang ditemukan lagi diperbatasan,” kata ibu sambil mengelap tangannya yang basah oleh air beras ke kainnya.
            Beberapa warga berlari melewati rumahku menuju bale warga. Pak sangkuy sempat berhenti dan mengajak ibu turut serta. “nanti nasiku gosong” jawab ibu  sambil mengacungkan centong seolah membuktikan ucapannya.
            Aku diperbolehkan Ibu bergabung dengan mereka ketika Vadi lewat berlari-lari keci dibelakang pamannya.
            “hati-hati. Jangan melihat terlalu dekat,” pesan ibu sambil mengelus rambut ku.
            Aku segera berlari mengejar  Vadi. Ternyata dugaan Ibu benar.  kata Vadi, subuh tadi ada seorang perempuan ditemukan tergeletak di daerah perbatasan.
            “Yang menemukan Draja,“ tutur Vadi sambil ter engah-engah. Kaki kecil kami memang harus bergerak lebih cepat agar tak ketinggalan dengan langkah orang dewasa.
            Sesampainya di bale warga, kerumunan oarang sudah menyemut hingga di ujung bawah tangga. Sambil bergandengan, aku dan Vadi mencoba menyelinap  menyibak pinggang orang-orang yang memenuhi rumah panggung ini. Ukuran badan kami yang kecil ternyata memudahkan untuk menyulusup hingga sampai d bagian depan.
Kini, di hadapan kami tampak seorang perempuan kira-kira berusia 20 tahun.  Ia bertubuh kurus.  Mengenakan celana seperti lelaki dari bahan yang sepertinya keras. Aku tak tahu namanya. Di atas nya, ia mengenakan baju tanpa lengan dengan leher  tinggi di bawah dagu nya.
Rambut sebahu perempuan itu di biarkan terurai. Sebagian kusut, di antara helaian rambut nya, tampak berkilauan anting-anting berbentuk lingkaran yang menggantung di bawah telinga nya. Ukuran nya cukup besar, hampir sebesar kuping nya.
Dengan gelisah,perempuan itu duduk menekuk kedua kaki nya hingga merapat ke dada nya. Ke dua tangan nya berpangku memeluk lutut. Kepalanya menunduk. Tak berani mendongak melihat banyak nya pasangan mata warga desa ku yang berdiri mengelilingi nya. Ia seperti bayi rusa yang di temukan Khadi sepuluh hari yang lalu. Bedanya, bayi rusa itu berani membuka mata nya dan melihat orang-orang yang mengelilingi nya.
Kami bukan nya ingin menjadikan perempuan itu sebagai tontonan. Tapi aku tahu,penduduk desa ini tak berani melakukan sesuatu tanpa perintah pemimpin desa, Jardin. Untung lah salah seorang pemuda yang di minta menjemput  Jardin,sudah kembali bersamanya. Setelah Jardin muncul, semua dengungan warga yang sibuk mengomentari kemunculan perempuan itu langsung berhenti. Arah pandangan seluruh warga mengikuti  Jardin, yang berjalan tenang mendekati perempuan yang masih duduk menekuk kaki itu. Begitu sampai di hadapan perempuan itu, Jardin ikut berjongkok. Ia mengelus perlahan kepala perempuan yang tetap menunduk itu. Begitu ia berdiri, seluruh warga langsung menunggu keputusan darinya.
“tentunya semuanya setuju kalau tamu kita ini beristirahat. Aku akan mengantarnya ke salah satu rumah warga untuk tinggal sementara di sana. Setelah itu, seperti biasa, kita semua akan menjadi tuan rumah yang baik” jardin bertepuk tangan tiga kali, dan semua orang langsung berbalik meninggalkan bale warga.

Saat aku berbalik hendak mengikuti mereka, Jardin menahanku.
“aku ingin ikut ke rumahmu. Perempuan ini bisa tinggal bersamamu kan?”
Aku mengangguk. Jadi, aku dan vadi masih tinggal di bale warga. Menatap perempuan itu yang kini berdiri di sebelah jardin. Tinggi mereka sama.
“ayo!” ajak Jardin sambil menggandeng tangan wanita itu. Dalam diam, akhirnya kami berjalan menuju rumahku.
Perempuan itu bernama Susan. Nama yang aneh untuk kampung kami. Meski aneh, entah kenapa aku sepertinya cukup akrab dengan nama itu. Susan tak banyak bicara. Sering ia terlihat bengong, menatap tanpa arah. Jika sudah seperti itu, Ibu cepat-cepat mengajak Susan bicara tentang apa saja dan Susan menanggapinya dengan menis menurutku pada dasarnya ia tak sulit di ajak bicara, hanya sering percakapan ibuku dengan Susan kurang aku pahami.
“kalau mau, kamu bisa ikut mandi di kali. Disini sudah biasa waktu pagi dan sore hari,anak-anak muda seperti mu mandi bersama. Orang tua seperti ku sesekali ikut. Tapi sering terlalu banyak pekerjaan yang harus ku bereskan,jadinya tak sempat ikut. kalea bisa mengantarmu jika kamu mau,”ujar ibuku pada suatu sore.
Aku mengangguk seolah meyakinkan susan,aku bisa mengantarnya ke kali.Yang tak ku mengerti pertanyaan nya setelah itu ”hanya perempuan sajakan yang mandi di kali?”.
            Aku langsung bengong. Begitu pula Ibuku.
            “Tentu saja tidak. Pada dasarnya bisa ikut mandi bersama. Bukankan tadi aku mengatakan anak-anak muda?” suara ibuku terdengar bingunng.
            Yang lebih membuat kami bingung, meihat reaksi Susan setelah itu matanaya terbeliak. Mulutnya ternganga. Seperti oarang yang barusaja dikageti” gila! Mandi bersama laki dan perempuan? Ituh porno sekali” teriaknya terkaget-kaget.
            Kepalaku tambah pusing.
            “Porno itu apa? Kenapa kamu biilang gila? Kami bukan orang gila!” kataku.
            Sekarang gantian Susan yang terlihat bingung.
            “Aku baru sadar kalo aku terdampar ditempat aneh,” ujarnya setengah bergumam. “lelaki dan perempuan tidak seharunya mandi bersama. Ituh terlarang. kalau sudah kawin sih tidak masalah. Tapi kalo belum sih ituh tidak boleh, dosa, tabu,” tambahnya.
            Aku dan ibu langsung menggeleng-geleng kepala. kami sama-sama menghela napas. “sudah bertahun-tahun kami melakukan nya.makannya kami tidak tahu yang aneh dari mandi bersama.mungkin hal ini takbiasa ditempat mu berasal. Tapi sekarang kamu ada di sini. Silakan saja kalau kamu ingin menyesuaikan diri atau tidak.

Ibu langsung berbalik kedapur seperti orang marah. Aku juga ingin marah. Tapi aku kasihan karena susan terlihat betul betul bingung.
Untuk menghilangkan kebingungan susan, seharian itu Aku ajak dia jalan-jalan. Di tepi kali, ia tak bisa menahan diri  sekali berteriak kaget saat mendapati para perempuan  di desa kami mandi di kali. Waktu kuajak dia menanti giliran para lelaki mandi, susan langsung terbirit-birit pergi. Aku tak tahu apa yang membuatnya takut.
Sambil mengajaknya berkeliling, Kuceritakan tentang kampung kami.Dengan luas yang tak kuketahui persisnya, kata jardin, penghuni kampung ini semuanya pendatang yang tiba-tiba masuk dari perbatasan. Selebihnya anak-anak sepertiku, lahir dikampung ini. Tidak ada yang tahu perbatasan itu seperti apa. Menurut yang kudengar , baik ibuku maupun orang-orang dewasa dikampung ini, tiba-tiba saja muncul diperbatasan dalam keadaan tak sadar dan linglung. Sama seperti saat susan di temukan.
 Setelah dikampung ini, biasanya orang-orang dewasa itu perlahan-lahan akan lupa akan tempat asalnya. Kalaupun tidak lupa, mereka tidak bisa lagi kembali. Aku sendiri belum pernah keperbatasan, tapi kata orang-orang, perbatasan kampung ini berupa hutan yang tak berujung. Mungkin karena itulah, mereka tidak ada yang pernah mencoba untuk kembali, Entah karena malas saking lebat dan luasnya hutan tersebut, atau mereka sudah betah tinggal di kampung ini. Aku pikir alasan utamanya karena mereka betah. Soalnya, sebagian besar dari mereka tak pernah mencoba datang ke perbatasan. Kata mereka,  kehidupan di kampung ini  lebih menyenangkan dari tempat asal mereka.
Lihat saja Susan. Meski ia terkaget-kaget melihat cara mandi orang-orang di kampung ini, dalam waktu seminggu, ia sudah bergabung dengan mereka. Bahkan paling semangat. Kata susan, di tempat ia berasal, ia tak pernah sebahagia ini
SEBULAN setelah susan ditemukan, entah kenapa banyak sekali orang yang ditemukan di perbatasan. Hal ini membuat jardin menyuruh membuat lebih banyak rumah. Banyaknya orang yang datang membuat sebagian besar orang dewasa mulai mengadakan banyak pembicaraan rahasia.
Kata jardin, akan makin banyak orang yang ditemukan di perbatasan. Kita harus siap-siap,  kata raji pada Ibu suatu malam.
 Mereka mengira aku sudah tidur. Makanya mereka tidak lagi bicara sambil berbisik-bisik.
Aku tahu saat seperti ini akan datang. Mereka semakin terhimpit, tersedak, saat itulah mereka berhasil menemukan perbatasan. Hanya yang betul-betul membutuhkan tempat ini yang berhasil menemukan perbatasan, bisik ibu.
Kita sudah beruntung berada  di tempat ini. Masih banyak orang-orang tertinggal di daerah sana. Aku dengar dari mereka yang baru tiba, situasi makin tak karuan. Banyak aturan yang semakin menjauhkan manusia dari naluri mereka. Perempuan dilarang keluar malam. Bergandengan tangan juga dihukum. Bahkan mereka mulai menangkapi lelaki yang tinggal bersama dengan teman lelakinya, juga perempuan-perempuan yang hidup satu rumah. 
Aku tersentak. Tak dapat kubayangkan betapa mengerikannya daerah asal ibuku. Bagaimana mungkin bergandengan tangan pun dilarang. Padahal di kampung ini, setiap orang berjalan-jalan sambil bergandengan tangan.
Setiap bertemu, kami berciuman. Baik itu sesama perempuan, sesama lelaki, atau lelaki dan perempuan. Tak ada yang salah dari semua itu. Aku bahkan tak habis pikir kenapa menangkapi para perempuan yang keluar pada malam hari.
Saat kuceritakan semua ini kepada Vadi, dia begitu marah. Sambil membawa rotan, ia mengajakku pergi ke perbatasan. Aku menolak. Tapi Vadi menarik keras tanganku. Kami akhirnya berlari menuju batas desa. Pohon-pohon begitu tinggi dan lebat. Aku ragu melangkah. Tapi Vadi semakin keras menggenggam tanganku. Sebelah tangannya yang lain memegang sebilah rotan dengan kuat. Aku tahu ia sangat marah sekali. Jika sudah seperti ini, tak ada yang dapat menghentikannya lagi.
Sambil mendongak ke atas, kucoba melihat pucuk tertinggi pohon-pohon di depanku. Sia-sia. Ujung-ujungnya seolah menyatu dengan langit. Aku tak dapat melihatnya. Sinar matahari membuatku silau. Saat menunduk, baru kusadar langkah kami sudah memasuki hutan. Anehnya, saat melewati pohon demi pohon, kami seolah melewati udara. Batang-batang pohon itu seolah mengabur seperti asap.
Kami terus berjalan. Terus. Dan semakin kami berjalan, pohon-pohon itu menguap satu demi satu. Tak kurasakan lagi cahaya matahari. Aku ingin kembali. Tapi entah kenapa aku tak dapat menghentikan langkahku. Begitu pula Vadi.
Aku ingin kembali, ujarnya sambil menangis.
Tapi kami tak dapat berhenti. Semakin jauh kami berjalan, kegelapan semakindatang. Hingga akhirnya kami mendapati kegelapan itu dipenuhi titik-titik cahaya seperti kunang-kunang. Hanya saja kunang-kunang itu berukuran besar dan menempel di semacam kayu berwarna putih. Saat kuketuk batangnya. Terdengar bunyi tang. Keras sekali. Tanganku sampai sakit.
Tempat kami berpijak bukan tanah. Aku tak tahu apa namanya. Berwarna abu-abu dan berbentuk kotak-kotak panjang yang ditempel berjajar. Di depan kami, melintas benda-benda seperti kardus berukuran besar dengan orang duduk di dalamnya. Benda-benda itu bergerak begitu cepat. Melebihi lari seorang manusia. Refleks, kugenggam telapak tangan Vadi berkeringat. Ia pasti juga ketakutan sama sepertiku.
Tiba-tiba, sebuah kardus berhenti. Dari dalam keluar laki-laki berseragam membawa tongkat. Mereka melihat kami. Spontan kami berbalik dan lari. Mereka mengejar. Aku tak tahu mengapamereka meneriaki kami. Tapi sambil berlari, kulihat mereka juga mengejar beberapa perempuan. Keadaan begitu kacau balau. Teriakan perempuan terdengar di mana- mana. Aku ikut. Berteriak.
Kutarik tangan Vadi. Kami mencoba mencari hutan yang kai lalui tadi. Tapi kami tidak menemukannya. Kami terus berlari. Bercampur bersama para perempuan yang dikejar para lelaki berseragam itu. Entah sampai kapan kami harus berlari. Perbatasan itu tak kami temukan lagi.
Jakarta, 8 Mei 2008

E.     Analisis cerpen  
 “PERBATASA”
Analisis cerpen berdasarkan unsur intrinsik menurut Nurgiyantoro
A.    Tema cerita
Ditemukannya seorang perempuan tergeletak di daerah perbatasan
B.     Alur cerita
Alur cerita ini merupakan peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan, urutan kejadian, Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa waktu, sehingga alur cerita ini alur maju

C.     Penokohan dalam cerpen “perbatasan”
·         Aku→  yang menjadi tokoh Aku dalam cerpen perbatasan meruapakan seorang anak kecil yang tinggal di suatu desa. Wataknya yang menjadi tokoh “aku” adalah orang yang selalu ingin tau segala sesuatu kejadian dan permasalahan. Beperan sebagai peran prontagonis.
·         Ibu → yang menjadi tokoh Ibu dalam cepen perbatasan adalah seorang Ibu rumah tangga yang sama dengan anaknya yang tinggal di desa. Watak tokoh Ibu dalam cerpen perbatasan adalah selalu berhati-hati dalam memutuskan suatu hal dan baik hati, ramah tamah, dan mudah bersosialisasi terhadap orang yang belum ia kenal. Berperan sebagai peran prontagonis.
·         vadi→temannya yang menjadi Tokoh aku dan wataknya sama dengan yang menjadi tokoh aku, yaitu selalu ingin tau terhadap suatu hal kejadian. Berperan sebagai peran prontagonis
·         Jardin→ adalah seorang pemimpin desa. Watak Jardin dalam cerita ini sifatnya baik hati dan selalu bisa mengatur warganya yang baru dan yang lama. Berperan sebagai peran prontagonis
·         Susan→adalah seorang perempuan yang berumur kira-kira 22 tahun yang tersesat di suatu tempat yang disebut perbatasan. Wataknya tidak mudah bersosialisasi dengan orang yang asing baginya. Berperan sebagai peran prontagonis
D.    Menurut Nurgiyantoro (2004:227—233) unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, antara lain sebagai berikut.
·         Latar tempat
Latar yang terjadi dalam cerpen perbatasan adalah di sebuah kampung, perbatasan, hutan, perkotaan, sungai dan di balai warga.
·         Latar waktu dalam cerpen perbatasan
o   Pagi hari
o   Sore hari
·         Latar sosial dalam cerpen perbatasan
o   Masyarakat yang tinggal di kampung dekat perbatasan masyarakatnya tidak mengenal agama, perilakunya bebas tidak ada aturan, tidak mengetahui soaial budaya yang baik dan banyak hal-hal mistis di kampung ini.
o   Latar sosial yang menjadi tokoh Susan, orangnya beragama, mengetahui yang benar dan salah, dan mengetahui soaial budaya yang baik.
E.     Sudut pandang
·         Pengarang mengungkapkan gagasanya dan pikiranya kedalam cerita ini mengungkapakan kurangnya peradaban manusia terhadap hal-hal yang ber agama, modern, budaya dan soial. Posisi cerita ini berganti-ganti, karena banyak kejadiannya sehingga diceritakan secara satu persatu tetapi tersusun ceritanya dari kejsdian yang satu ke kejadian yang lainnya. Pengarang menyampaikan ceritanya kepada pembaca dengan persepsi tokoh.
·         berikut berdasarkan pembedaan yang telah umum dilakukan orang yaitu bentuk persona tokoh cerita: persona ketiga dan persona pertama
persona yang pertama “dia”, yaitu yang menjadi tokoh utama dalam cerita perbatasan yang bernama Suasan dan yang menjadi persona yang ketiga yaitu yang menjadi tokoh aku yaitu sorang anak kecil yang berperan banyak membantu Susan.
F.      Gaya bahasa dan jiwa
Citra/imaji. Citra/imaji adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat memperjelas atau memperkonkret apa yang dinyatakan pengarang sehingga apa yang digambarkan itu dapat ditangkap oleh pancaindera kita. Melalui pencitraan/pengimajian apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat (citraan penglihatan) didengar (citraan pendengaran), dicium ( citraan penciuman), dirasa (citraan taktil), diraba (citraan perabaan), dicecap (citraan pencecap), dan lain-lain.



DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru
Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Elizabeth, Hurlock B. 1980. Developmental Psychology. New York. Mc.Graw Hill Book
http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2050683-pengertian-prosa/#ixzz1vgrxJYCY

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar